Inemuri: Tidur di Tempat Kerja yang Justru Dianggap Rajin

2025-12-01

Inemuri: Tidur di Tempat Kerja yang Justru Dianggap Rajin

“Inemuri”: Tidur di Tempat Kerja yang Justru Dianggap Rajin

Di banyak negara, tidur di tempat kerja bisa dianggap malas, tidak profesional, atau bahkan alasan untuk dipecat. Tapi di Jepang, fenomena ini justru punya nama khusus dan… sering dianggap hal yang positif.

Fenomena ini disebut “Inemuri” (居眠り).

Apa Itu Inemuri?

"Inemuri" berarti "hadir cuman tidur" — istilah untuk tidur singkat di ruang publik atau tempat kerja sambil tetap menunjukkan bahwa kamu masih bagian dari aktivitas yang berlangsung.

Ciri khas inemuri:

  • tidur sebentar (power nap)
  • tubuh masih dalam posisi duduk atau tegak
  • tidak sampai rebahan atau berbaring
  • dilakukan saat kondisi sangat lelah
  • biasanya terlihat seperti "tertidur tanpa sengaja"

Inemuri bukan tidur nyenyak, tapi micro-sleep, yang terjadi karena kelelahan atau ritme kerja padat.

Kenapa inemuri Dianggap Normal di Jepang?

  1. Budaya Kerja yang Sangat Melelahkan

Orang Jepang sering bekerja:

  • lembur berjam-jam
  • pulang larut
  • bangun pagi untuk kereta pagi

Jadi tidur sebentar di tempat kerja dianggap sebagai tanda bahwa seseorang sudah bekerja keras sampai kelelahan.

  1. Persepsi "Kerja Keras = Terhomat"

Jika kamu sampai ketiduran saat rapat, itu bisa dilihat sebagai:

"Dia kerja keras sampai capek sekali."

Bukan:

"Dia malas."

Itulah perbedaan persepsi budaya yang unik.

  1. Budaya High-Context

Jepang adalah budaya yang tidak menilai hal secara langsung. Yang dinilai adalah konteksnya:

  • Siapa yang tidur
  • Seberapa keras dia bekerja sebelum itu
  • Situasi tim dan kantor

Jadi tidur = malas itu tidak absolut, tergantung siapa dan kapan.

  1. Sering Dianggap Prioritas Kesehatan

Beberapa kantor bahkan Menganjurkan power nap 10-20 menit supaya karyawan lebih fokus.

Contoh Inemuri Dalam Kehidupan Sehari-hari

Kamu bisa melihat inemuri di banyak tempat:

  • di kereta saat jam kerja
  • di kantor saat jam istirahat
  • di ruang rapat
  • di perpustakaan
  • di taman kota
  • bahkan saat acara publik

Di Jepang, tidur sebentar di kereta sambil memegang tas tanpa takut barang hilang adalah hal biasa.

Kapan Inemuri Dianggap Oke dan Tidak Oke?

Oke (diterima secara sosial)

  • saat menunggu rapat
  • seteah lembur panjang
  • di kereta jam pulang kerja
  • saat istirahat makan siang
  • saat menunggu giliran presentasi
  • di tempat umum (karena kelelahan)

Tidak Oke (bisa dianggap kurang sopan

  • saat atasan sedang bicara langsung kepadamu
  • saat meeting penting dengan klien
  • saat melakukan pelayanan publik
  • saat berdiri (dianggap terlalu berlebihan)

Jadi inemuri boleh, tapi harus tahu tempatnya.

Kenapa Inemuri Bisa Terjadi? Faktor Penyebab

  1. Lembur Berlebihan

Banyak perusahaan jepang masih punya budaya lembur panjang.

  1. Jam Kerja Tidak Stabil

Shift malam, kerja pagi, dan overwork membuat ritme tidur tidak teratur.

  1. Komuter Jauh

Banyak pekerja yang perjalanan rumah–kantor lebih dari 1 jam. Ini membuat kereta menjadi “tempat tidur darurat”.

  1. Tekanan dan Stres

Stres tinggi memicu kelelahan cepat.

Bagaimana Pekerja Asing Harus Menyikapi Inemuri?

  1. Jangan Terlalu Kaget

Ini normal dan tidak dianggap buruk jika terjadi dalam konteks wajar.

  1. Jangan Sengaja Tidur untuk “Terlihat Rajin”

Inemuri tidak boleh dibuat-buat. Kalau terlihat sengaja, justru akan dianggap tidak profesional.

  1. Tahu Situasi

Jika sedang meeting penting atau bertemu klien → jangan tidur. Kalau hanya menunggu rapat, kadang dianggap wajar.

  1. Komunikasikan Jika Butuh Istirahat

Bilang dengan cara Jepang:

"Saya buth waktu sebentar untuk istirahat, agar bisa fokus kembali."

“Inemuri” adalah salah satu budaya Jepang yang paling unik dan sering membuat orang asing bingung. Di baliknya ada filosofi bahwa:

  • kerja keras adalah kebanggaan

  • kelelahan adalah tanda dedikasi

  • tidur sebentar itu manusiawi

  • produktivitas kadang butuh jeda

Inemuri bukan kemalasan — melainkan bagian dari ritme hidup dan kerja orang Jepang.